Feeds:
Posts
Comments

Kelompok:Wisnu Jatmiko, Ina Yuniati, Helen

Organisasi : PR (Perusahaan Rokok) Cap Grendel
Didirikan : Di Kota Malang tahun 1948
Produk : Grendel Jaya, Grendel Anda, Grendel Ombak, dan Grendel International
Area Penjualan : Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Madura
Strata : Menengah ke bawah (rokok kelas 3)
Produksi : 350 juta batang rokok (1989)
Pemasukan ke Negara : Cukai rokok Rp. 989jt (1989)
PPn Rp. 500jt (1989), Karyawan : 800 orang (1989)

Pesaing : Gudang Garam, Djarum, dan Bentoel
Karena tidak mampu bersaing, maka PR Cap Grendel diakuisisi oleh PR Gudang Garam pada tahun 1990

Produk Bentoel : Slim Biru, International, Sensasi, Klasik, Merah, Star Mild, Neo Mild, Club Mild, Unoi Mild, Sejati, Bintang Buana, Joged, Rawit, Prinsip, Country, Tali Jagat, Ardath

Produk Gudang Garam : International, Surya 12, Surya 12 Gold, Surya 16, Surya 16 Exclusive, Surya Slims, Surya Signature, Surya Profisional, Surya Pro Mild, GG Nusantara, GG Nusantara Mild, GG Djaya, Nusa, Taman Sriwedari, Sigaret Kretek Filter Klobot

Analisa : Perusahaan rokok cap Grendel tidak mampu mempertahankan perusaannya karena;
• Tidak mampu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan yang ada di lingkungannya.
• Tidak mau belajar, sehingga tidak kreatif dan inovatif  mengembangkan produknya.  Statis, sehingga produk tidak diminati lagi 
• Tidak melakukan knowledge management, sehingga tidak mampu membaca peluang yang ada pada lingkungannya

Organisasi : Program Studi Diploma 3 Teknik Komputer dan Jaringan, Jurusan Teknik Elektro FT-UN

Landasan Hukum : Perjanjian Kerja-sama antara BPKLN dengan UNJ tahun 2006
PPTI (Pusat Pengembangan Teknologi Informasi) UNJ ditunjuk sebagai unit untuk melaksanakan perkuliahan 86 mahasiswa (asal SMA atau SMK) sampai mendapatkan gelar Diploma 3
Evaluasi Prodi : 1. Sesuai dengan UU Sisdiknas, PPTI haram hukumnya untuk mengeluarkan ijazah Diploma 3
2. Untuk menyelamatkan kebijakan pimpinan UNJ, ditunjuk Ketua Jurusan Teknik Elektro FT-UNJ sebagai pejabat yang diberi tugas untuk menyelenggarakan perkuliahan D3 TKJ sampai mahasiswanya habis.
3. Prodi D3 TKJ ditutup pada tahun 2007
4. Mahasiswa D3 TKJ Angkatan 2006 tetap difasilitasi sampai mereka lulus, mendapat ijazah, dan di wisuda di tahun 2009.

Analisa: Bahwa program diatas tidak memiliki visi dan tujuan yang jelas, sehingga tidak mampu bertahan.

POTENSI PUSDIKLAT KEMENTERIAN KESEHATAN

UNTUK MELAKSANAKAN ORGANISASI BELAJAR

Oleh

Ina Yuniati

Dalam rangka mewujudkan visi Kementerian Kesehatan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dalam hidup sehat, Badan PPSDM Kesehatan menetapkan visi nya adalah; ” Penggerak Terwujudnya Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Profesional agar Masyarkat Mandiri dalam Hidup Sehat “, sedangkan untuk mencapai visi tersebut Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Aparatur Kesehatan menetapkan visinya “Profesional dalam pelayanan diklat untuk menciptakan aparatur yang berkualitas dan berkompeten melalui media dan teknologi informasi”.

Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari pembangunan manusia untuk mencapai Indonesia Sehat 2014. untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut dibutuhkan adanya sumberdaya manusia kesehatan yang mampu menyelenggarakan atau memberikan pelayanan kesehatan secara profesional.

Sebagai pusat pendidikan dan pelatihan  harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menciptakan tenaga kesehatan yang mampu memberikan pelayanan yang berkualitas, mampu menghadapi segala perkembangan dan tantangan di era informasi ini. Sehingga dapat memberikan pelayanan prima bagi semua stake holder.

Untuk menjawab kebutuhan diatas maka organisasi belajar merupakan alternative yang bisa dikembangkan, sebagaimana  Senge menjelaskan (2004) “ …organizations where people continually Ekspand their capacity to create the results they truly desire, where new and Ekspansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning to see the whole together”   Sedangkan Marquardt  (2002)menyatakan “Learning organization  is  systematic, accelerated learning that  is accomplish by the organizational system as a whole rather than the learning of individual members within the system. Learning organizations are able to transform data into value knowledge  and  thereby  increase  the  long-term  adaptive capacity”.

Maka berdasarkan pengertian tersebut  menunjukkan bahwa organisasi belajar merupakan tempat orang secara terus menerus memperluas kemampuan untuk mewujudkan apa yang sesungguhnya mereka inginkan, tempat  dikembangkannya  pola-pola berpikir yang baru dan ekspansif , tempat yang dapat mengekspresikan  aspirasi kolektif secara bebas , dan tempat orang secara terus menerus belajar secara bersama-sama.  memberdayakan  orang-orang  sehingga terjadi peningkatan kemampuan yang terjadi secara menetap.

Marquatdt menunjukan bahwa sebuah organisasi belajar harus dibangun menjadi sebuah sistem holistik yang didalamnya akan dipraktekan lima disiplin yaitu system thinking, personal mastery, mental model, shared vision dan team learning; ditambah lagi disiplin dialog yang menurut Marquardt harus dipisahkan menjadi disiplin tersendiri.

Maka orgganisasi belajar berarti organsisasi yang berupaya untuk meningkatkan   kemampuannya   dengan   cara   membangun sebuah   sistem   belajar   untuk   memfasiliasi   semua stakeholder untuk belajar secara bersama dan sepanjang hayat.

Sebagai langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh organisasi untuk menjadi organisasi belajar.  Dengan menggunakan instrument yang dikembangkan oleh Marquadth  (dalam   buku Building the Learning Organization).  Aspek-aspek  yang  diukur  adalah:

1.    Dinamika belajar

2.    Transformasi organisasi

3.    Pemberdayaan Mnusia

4.    Pengelolaan pengetahuan

5.    Penerapan teknologi

Kriteria skor total adalah sebagai berikut;

81-100     : siap menjadi OB

61-80       : telah memiliki landasan kokoh untuk menjadi OB

40-60       : telah   memiliki   komponen penting untuk menjadi OB

< 40         : Harus   melakukan   perubahan   drastic   untuk menjadi OB

Hasil pengukuran menunjukan skor 66

Rata-rata skor setiap Aspek:

1.  Dinamika belajar            :                    :2,6

2.  Transformasi organisasi           : 2

3.  Pemberdayaan manusia          : 2

4.  Pengelolaan pengetahuan      : 3,2

5.  Penerapan teknologi               : 2,8

Berdasarkan skor yang didapat tersebut diatas maka Pusdiklat Aparatur Kesehatan berada dalam rentang 61-80 yang berada dalam kategori telah memiliki landasan kokoh untuk menjadi OB.

Aspek yang memperoleh skor tertinggi adalah dalam bidang pengelolaan teknologi, sedangkan yang terendah dalam bidang transformasi organisasi dan pemberdayaan manusia. Setiap aspek masih memperoleh skor dalam rentang 2-3 yang berarti setiap unsur telah  diterapkan  namun  dalam  tarap  yang  cukup  (applied to a moderate Ekstent).

Oleh karena itu untuk menciptakan organisasi belajar perlu upaya peningkatan dalam semua unsure diatas;

–    Dinamika Belajar, perlu peningkatan upaya upaya yang dapat memfasilitasi terjadinya proses belajar untuk tingkat individu, kelompok dan organisasi. Hal ini dapat dlakukan dalam bentuk kegiatan rutin belajar dalam kelompok, atau belajar mandiri atau belajar yang di kemas dalam bentuk seminar, workshop, on the job learning atau pelatihan.

–     Transformasi organisasi, perlunya upaya peningkatan untuk share vision, sehingga seluruh anggota organisasi memahami visi organisasi, tujuan , budaya dan strategi yang digunakan untuk pencapaian visi dan tujuan organisasi. Hal ini akan menciptakan mental model yang sesuai dengan visi organisasi.

–      Pemberdayaan manusia, untuk menciptakan organisasi belajar masih perlu memberdayakan potensi yang dimiliki oleh deluruh anggota organisasi, dan peningkatan kapasitas dalam rangka mengembangkan personal mastery. Sehingga setiap orang memiliki kinerja yang baik.

–      Pengelolaan pengetahuan perlu dioptimalkan dengan menggunakan resourses yang dimiliki melalui elektronik dan cetak, menggali ideu dan pengetahuan yang dimiliki oleh staf dan widiyaiswara dan menjadikannya sebagai pengetahuan organisasi. Penyebar luasan pengetahuan organisasi untuk seluruh anggota dan member kesempatan untuk sharing knowledge antar individu, bagian sebagai lesson learn

–                       Penerapan teknologi, mengembangkan potensi dari system informasi dan komunikasi dengan elektromik system melalui optimalisasi Learning resources Centre  LRC) yang dimiliki. Memberdayakan setiap anggota agar mampu menggunakan system informasi dan komunikasi yang ada, sehingga dapat menciptakan individu, kelompok dan organisasi yang selalu belajar secara terus menerus.  

Kesimpulan

 

Berdasarkan hasil penilaian, maka Pusdiklat Aparatur Kesehatan memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan menjadi organisasi belajar. Hal ini sejalan dengan visi dari institusi sebagai pusat diklat yang professional yang dapat menciptakan aparatur yang berkualitas dengan penggunaan media dan teknologi informasi. Maka para pimpinan yang ada dalam institusi tersebut harus menciptakan lingkungan yang membangkitkan motivasi belajar untuk seluruh anggota organisasi.  

  Daftar Pustaka

  1. Marquardt, MJ (2002) Building the Learning Organization, New York: McGraw-Hill.
  2. Senge, PM (2004) The Fifth Discipline: The Art and Practice of The Learning Organization. 1990
  3. Senge, PM (2000) School Thar Learn, A Fifth Discipline. New York: Doubleday Dell Publishing Group, Inc. 2000

Hukum Hukum Disiplin Kelima

(Laws of The Fifth Discipline)

Oleh; Ina Yuniati

Untuk menciptakan organisasi belajar Peter Senge (1995) mengemukakan kekuatan lima disiplin yang harus dimiliki, salah satu disiplin yang dikemukakan adalah “ Berfikir Sistem”. Seluruh bagian dari organisasi harus memiliki pemikiran bahwa organisasi merupakan sistem yang memiliki bagian-bagian yang tidak terpisahkan, setiap bagian memiliki peranan penting untuk mmenentukan keberhasilan organisasi. Antara bagian saling berpengaruh satu dengan yang lainnya, oleh karena itu keberhasilan organisasi ditentukan oleh seluruh anggota dan bagian dari organisasi itu sendiri. Kemudian dalam berfikir system juga memandang bahwa organisasi merupakan bagian dari lingkungannya, maka untuk mencapai keberhasilan organisasi harus peka terhadap lingkungannya yang selalu berkembang dan mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan organisasi itu sendiri. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, perkembangan tuntutan masyarakat dan persaingan yang terus terjadi di era global ini mau tidak mau menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari organisasi sebagai bagian dari system lingkungan yang ada pada saat ini.

Melihat betapa pentingnya berfikir system dalam menciptakan organisasi yang senantiasa terus belajar, Senge mengungkapkan hukum-hukum yang mendasari cara berfikir system tersebut dalam bukunya The Art and Practice of The Learning Organization, Senge menjelaskan sebelas hukum yang merupakan fondasi  (cornerstone) untuk bisa berfikir sistem  (System Thinking) untuk menciptakan organisasi belajar (Learning Organization).

Hukum – hukum yang dikemukan oleh Senge antara lain :

1.    Today’s problems come from yesterday’s solutions  

Permasalahan hari ini sebenarnya merupakan dampak dari pemecahan masalah  yang telah dilakukan pada saat sebelumnya.  Kenapa  ini terjadi karena sering pada saat memecahkan masalah kita hanya melihat dalam satu sisi saja, sehingga pada saat permasalahan itu hilang sebenarnya sumber masalahnya belum terselesaikan secara tuntas, oleh karena itu masalah baru akan muncul atau masalah tersebut muncul di tempat yang berbeda. Begitupun tindakan yang dilakukan untuk memecahkan permasalahan sering menggunakan cara lama yang pernah dilakukannya, sehingga tetap tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Senge menggambarkan beberapa contoh dalam kehidupan nyata, sebagai mana penjual karpet melakukan solusi yang berkali kali hanya dapat menghilangkan masalahnya sesaat tetapi muncul kemudian pada tempat yang berbeda, namun pada akhirnya dia mencoba cara yang berbeda dengan mengangkat ujung karpetnya maka permasalahannya menjadi hilang.

Ilustrasi tersebut menunjukan bahwa dalam memecahkan masalah seharusnya senantiasa melihat permasalahan tersebut dari seluruh bagian system, sehingga pemecahan yang dilakukan dapat menyelesaikan akar permasalahnnya secara tuntas. Karena jika kita hanya berfokus pada  bagian yang menimbulkan gejala permasalahan saja, tidak melihat bagian lain yang mungkin menjadi sumber permasalahan yang sebenarnya.  Maka  solusi yang diambilpun   sering hanya menghilangkan gejala tetapi sumber permasalahan belum terselesaikan. Maka permasalahan akan muncul kembali secara terus menerus, karena pada hakekatnya solusi yang dilakukan hanya memindahkan permasalahan ke tempat lain. Dalam berfikir sistem bahwa setiap bagian saling berkaitan dan mempengaruhi, oleh karena itu dalam memecahkan suatu permasalahan harus melihat system secara utuh sehingga dapat ditemukan inti permasalahannya.

Ilustrasi tersebut juga memberikan makna, bahwa dalam menyelesaikan permasalahan kita tidak menggunakan cara lama untuk masalah saat ini, karena sebagai organisasi yang merupakan sub system dari system yang besar yaitu lingkungan yang terus berkembang, akan menyebabkan perubahan kondisi dalam organisasi. Oleh karena itu cara yang lama tidak cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul saat ini, harus digunakan cara lain yang sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang ada, dan disesuaikan dengan kompleksitas permasalahannya. Sehingga pemecahan yang dilakukan menyelesaikan permasalahan dengan tuntas. 

Nilai yang dapat diambil dari contoh lain dalam penjelasan Senge, bahwa dengan solusi yang dilakukan secara   menyeluruh  dalam system akan mengantisipasi munculnya permasalahan lain yang akan terjadi sebagai dampak dari tindakan yang dilakukan.    

2.    The harder one pushes, the harder the system pushes back.

 Semakin kuat kita mendorong, semakin kuat system melakukan perlawanan. Dalam prinsip ini Senge menggambarkan bahwa  organisasi sebagai system merupakan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dengan proses stimulus respon, yang disebut sebagai “compensating feedback”.  Beberapa ilustrasi yang dituliskannya  menunjukan bahwa  bila kita melakukan sesuatu yang kelihatannya bermanfaat, tetapi secara tidak disadari ternyata hal tersebut mengganggu  faktor lain dalam system atau berpengaruh buruk pada bagian lain yang mengakibatkan permasalahan baru sebagai dampak dari tindakan yang kita lakukan.   Sebagai contoh pemerintah yang berniat baik membantu masyarakat dengan membangun banyak perumahan dan melatih keterampilan kerja pada daerah yang masyarakatnya lemah,  ternyata program tersebut tidak menyelesaikan masalah karena semakin banyak biaya yang dikeluarkan tetapi masyarakat lemah semakin banyak. Tanpa disadari bahwa lemahnya daerah tersebut disebabkan banyaknya imigran yang datang dan menikmati program tersebut, oleh karena itu menimbulkan masalah baru dalam masukan pajak daerah tersebut, akhirnya kondisi menjadi terpuruk.

 

 

3.    Behavior grows better before it grows worse

 Perilaku tampak lebih baik sebelum dia menjadi buruk.   Prinsip ini menunjukan bahwa apabila kita melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang sistemik, dan hanya berfikir saat itu, tanpa memikirkan kelangsungan hidup suatu system maka  kita akan terjebak pada keberhasilan yang semu. Karena pada saat kita melakukan intervensi masalah yang ada menjadi hilang, seolah–olah kita berhasil menyelesaikan masalah tersebut. Padahal perubahan hanya terjadi sesaat karena pada hakekatnya pada saat melakukan intervensi pada satu bagian secara tidak langsung akan mempengaruhi bagian lain dari system, yang merupakan upaya  kompensasi dari system untuk menghadapi perubahan tersebut “compensating feedback”. Namun upaya system untuk melakukan kompensasi akan memiliki batas kemampuannya, sehingga dampak kondisi tersebut  terakumulasi menjadi kondisi yang sangat buruk. Hal ini sering tidak disadari dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.   Bahwa tindakan yang kita lakukan telah menjebak kita pada kondisi yang lebih buruk.

 Maka dalam mengambil suatu tindakan penyelesaian masalah kita harus selalu memikirkan dampak tindakan tersebut pada system yang ada, dan jika kita telah melakukannya maka senantiasa melakukan monitoring dalam system tersebut untuk menghindari kemungkinan yang akan terjadi dan tidak terprediksi sebelumnya. Karena bila kita menemukan dampak nya lebih awal maka kita akan segera mencari penyelesaian masalah lebih cepat dan menyeluruh dalam system. Kewaspadaan dalam berfikir sitemik akan mengantisipasi kemungkinan munculnya masalah yang lebih buruk, sekaligus terhindar dari jebakan yang kita buat sendiri. Banyak contoh bahwa organisasi yang hanya consent menangani masalah secara tipikal, akhirnya jatuh dalam kesulitan yang sistemik yang sangat sulit untuk dipecahkan.

 4.    The easy way out usually leads back in

Jalan keluar yang mudah biasanya akan mengarahkan kita pada jalan kembali. Hukum ini sering terjadi pada setiap individu, yang tidak mau keluar dari zona yang nyaman. Oleh karena itu dalam menyelesaikan permasalahan yang akan muncul sebagai alternative pemecahan adalah tindakan yang pernah kita lakukan. Namun ternyata apa yang pernah kita lakukan belum tentu akan menyelesaikan permasalahan yang muncul saat ini, dan bahkan sudah tidak sesuai lagi dengan kompleksitas masalahnya. Jika  kita tetap melakukannya karena itu yang kita ketahui  merupakan cara yang terbaik, maka kemungkinan masalahnya  tidak akan terpecahkan.

 Senge mengatakan bahwa semakin kuat kita berusaha dan berfikir secara sistemik maka kita akan menemukan cara yang lebih efektif memiliki daya ungkit yang lebih besar. Oleh karena itu janganlah kita memilih solusi hanya karena cara tersebut sudah pernah kita lakukan sehingga lebih mudah. Kenyataan tindakan tersebut hanya akan menimbulkan kegagalan karena kita tidak melihat kondisi system yang dihadapi sekarang.   

 

 5.    The cure may be worse than the disease.

 Obat bisa jadi lebih buruk dari pada penyakitnya. Hukum ini menggambarkan bahwa  solusi yang biasa digunakan, bila di berikan tidak sesuai lagi akan menimbulkan ketidak berdayaan suatu individu atau organisasi dalam memecahkan permasalahannya. Bahkan tindakan tersebut akan menimbulkan ketergantungan sehingga dirinya tidak mampu bahkan tidak memiliki kemauan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh penggunaan konsultan dapat menyebabkan ketidak mampuan anggota organisasi tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang di hadapi oleh organisasi itu sendiri. Maka untuk menghindari dampak buruk tersebut harus digunakan obat lain atau cara lain yang lebih ampuh dan efketif untuk penyelesaian masalah yang ada, dengan melihat konteks permasalahan tersebut dari kondisi system yang ada.

Makna yang bisa diambil, bahwa solusi yang paling efektif adalah solusi yang diambil dengan mempertimbangkan kondisi yang terjadi secara sitem yang ada saat ini, dengan mempertimbangan manfaat dan dampak yang akan muncul.

 6.    Faster is slower

 Percepatan merupakan perlambatan . Senge menjelaskan bahwa ketika upaya dilakukan secara berlebihan maka sistem akan berusaha mencari kompensasi dengan memperlambat,  Hal ini menunjukan bahwa segala sesuatu memiliki tingkat kemampuan sesuai kapasitasnya. Oleh karena itu dalam melakukan upaya apapun harus mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki dari sumber yang ada pada system tersebut, setiap angota organisasi dan bagian nya diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan alternative yang akan dipilih. Karena jika terlalu ambisius tanpa memperhatikan kondisi dari system, maka bukan keberhasilan yang didapat tetapi kegagalan yang akan terjadi, atau bahkan ketidak berdayaan dari organisasi yang merupakan dampak dari overloud yang terjadi pada bagian  system yang dipaksakan, mempengaruhi fungsi system menyeluruh.

 7.    Cause and effect are not closely related in time and space

 Sebab akibat tidak muncul berdampingan dalam ruang dan waktu. Dalam prinsip ini Senge menegaskan bahwa sebab akibat tidak muncul dalam waktu bersamaan atau dalam tempat yang sama, karena hakekat sebuah system antara bagian yang satu dan yang lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu permasalahan pada satu bagian tidak selalu menimbulkan dampak pada bagian tersebut tetapi bisa menimbulkan dampak pada bagian system yang lainnya, atau bahkan berpengaruh pada system secara menyeluruh. Maka dalam hal ini, untuk menyelesaikan masalah  jangan hanya  mencari akar penyebab dari tempat munculnya gejala atau satu masalah saja, namun harus mengidentifikasi masalah atau gejala lain, kemudian dianalisa keterkaitan semua gejala tersebut dari seluruh system. Kita bisa menggali lebih jauh apa yang merupakan akar permasalahan yang ada dalam system tersebut, sehingga solusi yang akan diberikan benar-benar memecahkan permasalahan yang ada.

8.    Small changes can produce big results, but the areas of highest leverage are often the least obvious

 Perubahan kecil dapat menghasilkan akibat yang besar, tetapi area yang sangat signifikan sering tidak terlihat  jelas. Hukum ini menunjukan bahwa dalam berfikir system perubahan kecil yang terfokus  dapat menghasilkan perbaikan yang signifikan. Namun tidaklah mudah untuk menemukan bagian yang sangat signifikan tersebut, karena bagian tersebut sering  tidak nampak dengan jelas (obvious). Senge menegaskan bahwa tidak mudah menemukan perubahan yang berdampak besar, namun ada cara untuk  mengenalinya. Langkah pertama adalah belajar untuk melihat “struktur” yang mendasari suatu kejadian atau peristiwa. Beliau juga menyarankan untuk memikirkan perubahan sebagai suatu daripada melihatnya sebagai potret saja.

 9. You can have your cake and eat it too – but not at the same time 

Anda dapat memiliki kue anda dan memakannya,  tetapi tidak sekaligus. Hukum ini mengungkapkan makna bahwa kita  tidak dapat memperoleh dua keberhasilan dalam kesempatan yang sama. Karena dalam berfikir system, kita dapat memperoleh dua hal yang bermanfaat, namun membutuhkan waktu untuk berproses, sehingga kita tidak mendapatkan secara bersamaan. Senge juga menjelaskan bahwa sering kita dihadapkan pada dilemma untuk memilih sesuatu “kalau tidak yang ini atau yang itu”, karena kita berfikir untuk mendapatkannya  pada saat itu juga. Dalam berfikir sistem sebenarnya kita bisa memiliki kedua-duanya namun memerlukan  proses, sehingga mendapatkannya secara bertahap. Pemikiran untuk mendapatkan segala sesuatu secara bertahap melalui proses  merupakan kekuatan dalam berfikir system.

 10. Dividing an elephant in half does not produce two small elephants

 Membelah seekor gajah menjadi dua bagian tidak akan menghasilkan dua gajah kecil. Hukum ini  menjelaskan bahwa organisasi dapat diumpamakan seperti makhluk hidup yang memiliki integritas. Karakternya akan terwujud kepada keseluruhan system tersebut. Oleh karena itu untuk dapat memahami masalahnya, kita harus melihat seluruh sistem yang terkait didalamnya. Senge mengilustrasikan seperti seekor gajah, jika di belah dua tidak akan menghasilkan dua gajah kecil. Maka jika kita memandang permasalahan secara sepihak dalam bagian tertentu saja tidak dapat menggambarkan permasalahan yang sebenarnya.

 Namun kisah beberapa orang buta yang menjelaskan gajah dengan karakter yang berbeda memiliki makna bahwa setiap individu atau bagian dalam system memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, untuk mendapatkan masalah yang sebenarnya seluruh bagian harus berinteraksi dan berkoordinasi sehingga dapat melihat permasalahan secara utuh, dan penangannanyapun menjadi  lebih terarah walaupun dapat dikerjakan dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan isu yang terjadi pada bagian, tetapi terkoordinasi untuk menyelesaikan masalah yang saling terkait. Karena jika  isu tersebut sangat menentukan kehidupan organisasi, sekecil apapun bagian tersebut sangat bermakna dalam berfikir system. Setiap fungsi akan berpengaruh pada kemajuan system, oleh karena itu beberapa hal dapat dipahami dengan melihat hanya pada fungsi utama, sementara sebagian lain penting untuk melihat kekuatan sistemik dalam area fungsional.

11. There is no blame

 Tidak menyalahkan.  Melalui  hukum ini Senge menjelaskan bahwa kita cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan di luar atas masalah yang kita hadapi. Dalam berfikir system tidak ada istilah orang atau keadaan luar, yang ada hanyalah kita, karena kita bagian dari system, yang didalamnya termasuk penyebab masalah. Oleh karena itu obatnya terletak pada hubungan kita dengan lawan kita sendiri. Makna dari hukum ini bahwa sebagai bagian dari system kita harus mampu melihat diri kita, kelemahan serta kekuatan yang akan mempengaruhi system, sehingga kita akan berusaha belajar dan memperbaiki diri agar tidak terjadi masalah dalam system. 

Ina Yuniati, S3TP-A, UNJ

 

Organisasi Belajar

Organisasi Belajar

Dalam masa era teknologi komunikasi dan informasi ini maka perubahan kebutuhan masyarakat dan lingkungan berkembang sangat pesat, sehingga masalahpun bermunculan dengan bentuk dan kompleksitas yang sangat berbeda–beda, kondisi ini menuntut setiap organisasi yang ada secara formal ataupun non formal pada masyarakat  untuk mampu bertahan dan berkembang menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan perubahan tersebut. Keluarga, sekolah, masyarakat, kantor, perusahaan, bahkan  pemerintah merupakan bentuk organisasi yang harus mampu bertahan dan menyesuaikan diri terhadap segala perubahan lingkungan yang terjadi. Oleh karena itu setiap organisasi harus mampu belajar menyesuaikan dengan perubahan yang berkembang, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara berkualitas. Perkembangan setiap organisasi akan tergantung pada pengetahuan anggotanya atau karyawannya, dengan demikian organisasi perlu terus belajar. Maka organisasi belajar menjadi kebutuhan dari masyarakat pada era informasi saat ini. Berbagai pengertian tentang organisasi belajar telah berkembang dari berbagai teori dan konsep, pada kesempatan ini akan dibahas pengertian organisasi belajar menurut Marquardt dan Senge. 

Marquardt (1996) mendefinisikan  organisasi belajar secara eksplisit sebagai organisasi yang belajar bersama  dengan sungguh-sungguh, dan senantiasa menstransformasikan diri dengan mengumpulkan, mengelola dan menggunakan pengetahuan untuk keberhasilan organisasi.  Organisasi tersebut memberdayakan semua orang yang ada didalam ataupun diluar organisasi untuk belajar sambil bekerja  dengan memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan proses belajar dan produktifitas. 

Senge (1994) walaupun tidak merumuskan definisi dari organisasi belajar secara eksplisit seperti halnya Marquardt, namun melalui konsep The Fifth Discipline telah menjelaskan bahwa terdapat lima hal penting yang saling terkait satu sama lain dalam menciptakan organisasi belajar. Setiap komponen merupakan unsur vital dalam membangun dan menciptakan organisasi yang sungguh-sungguh belajar. Masing masing komponen  di namakan sebagai disiplin yang merupakan perangkat teori dan tehnik yang harus dipelajari dan dikuasai dalam rangka membangun organisasi belajar. Dan setiap komponen tersebut walaupun berkembang secara terpisah, tetapi masing-masing saling terkait dan mendukung keberhasilan komponen yang lain. Komponennya adalah sebagai berikut: berfikir system (system thinking), penguasaan pribadi (personal mastery), pola mental ( mental model), visi bersama (shared vision), dan belajar kelompok (team learning)

Dari pengertian organisasi belajar menurut  Marquardt dan Senge tersebut, menunjukan adanya kesamaan penekanan pada pinsip organisasi belajar. Bahwa belajar di lakukan secara sadar oleh semua unsur secara menyeluruh atau bersama dengan sungguh-sungguh dan dilakukan secara terus menerus.dalam organisasi. Sehingga semua individu dan bagian terlibat dalam kegiatan belajar, tentu hal ini merupakan kekuatan yang luar biasa untuk mencapai tujuan dalam mewujudkan visi organisasi, oleh karena itu dapat divisualisasikan bahwa organisasi memiliki satu otak yang tangguh.  Hal ini sesuai dengan pendapat Charles (1995) yang menjelaskan bahwa karakteristik organisasi belajar  adanya curiosity, forgiveness, trust , togetherness. Sehingga organisasi belajar akan terwujud apabila seluruh anggota organisasi secara bersama memiliki komitmen untuk terus belajar, semangat mencari inovasi dan kreatifitas baru, saling memahami satu sama lain dan selalu berubah dalam merespon kebutuhan lingkungan.

Kemudian keduanya menekankan bahwa proses belajar dilakukan pada saat bekerja, sehingga merupakan kegiatan yang terintegrasi secara efektif yang otomatis akan meningkatkan kualitas kinerja setiap individu yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas produktifitas organisasi tersebut. Kegiatannya dilandaskan pada aspirasi, refleksi, dan konseptualisasi bersama. Ternyata kondisi yang bebas dapat membentuk dan menstimulus aspirasi kelompok. Oleh karena itu organisasi belajar akan tercipta jika  suasana yang bebas diberikan bagi individu dan kelompok yang ada pada organisasi untuk belajar secara berkesinambungan.

Kemampuan berfikir system harus dimiliki dalam organisasi belajar, sebagaimana Senge menetapkannya sebagai poin pertama dalam the fifth discipline, begitupun Marquardt yang menekankan bahwa belajar merupakan suatu sub system dalam organisasi belajar, sementara sub sitem lainnya adalah; organisasi, pengetahuan, orang dan teknologi. Kedua tokoh ini memandang bahwa kemampuan berfikir sistem ini merupakan hal yang fundamental dalam organisasi belajar, karena segala usaha setiap individu dan bagian saling berkaitan, saling mempengaruhi dan sekaligus saling membentuk sinergi satu sama lain. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara menyeluruh, organisasi juga harus dapat bertindak sesuai dengan perubahan yang terjadi pada lingkungannya.  Hal ini akan memperkuat organisasi untuk dapat bertahan dan berkembang sesuai perubahan yang terjadi. Kondisi ini sebagaimana dinyatakan dalam pandangan metamorphosis organisasi yang digambarkan sebagai organisme yang dapat hidup dan mengalami proses tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengaruh lingkungan. Dengan berfikir system ini maka organisasi tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan lingkungannya, organisasi harus selalu berubah sebagai respon untuk menyesuaikan perubahan yang terjadi pada lingkungannya. Maka organisasi akan mampu bersaing dalam era perubahan ini.

Dari kedua pengertian tersebut juga menekankan hal yang sama, bahwa semua orang dalam organisasi secara individu ataupun kelompok  memiliki kemampuan / potensi yang harus digali dan dikembangkan untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu setiap individu dan kelompok perlu di fasilitasi untuk dapat melakukan kegiatan belajar secara bebas dan terus menerus untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga akan meningkatkan kinerja individu, kelompok dan berpengaruh terhadap kinerja organisasi.

Senge juga berpendapat bahwa manusia sebagai individu akan mengembangkan kemampuan untuk meningkatkan kapasitasnya secara terus menerus, sehingga secara alami akan terus berkembang pola berfikirnya. Hal ini juga di kemukakan oleh Marquardt yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk selalu menyesuaikan diri dan memperbaharui  dirinya dalam rangka upaya meningkatkan diri  untuk merespon perubahan lingkungan yang ada disekitarnya. Maka keduanya memandang bahwa manusia sebagai mahluk yang selalu ingin berubah akan selalu belajar dalam upaya merespon kebutuhan diri dan lingkungannya untuk meningkatkan kemampuannya. Dengan kata lain manusia akan terus belajar bagaimana cara belajar dan mengembangkan kapasitas diri.

Perbedaan dari kedua pendapat tentang organisasi belajar bahwa Senge meyakini organisasi akan mampu bertahan dan berkembang menghadapi perubahan lingkungan apabila selalu memiliki kemampuan dan keterampilan baru serta sensitive terhadap perubahan,  dengan menerapkan lima komponen penting yaitu; berfikir system, penguasaan pribadi, pola mental, visi bersama dan belajar secara tim. Sedangkan Marquardt meyakini bahwa organisasi belajar akan tercipta apabila seluruh komponen penting yang ada dalam system diperhatikan yaitu; organisasi, pengetahuan, orang dan teknologi. Dalam memandang perbedaan penekanan komponen penting untuk menciptakan organisasi belajar tersebut, penulis menyimak nilai dan makna yang saling keterkaitan sebagai berikut;   Bahwa organisasi sebagai system akan menjadi penentu terciptanya kegiatan belajar yang menyeluruh bagi anggotanya, sehingga bagaimana organisasi mampu memfasilitasi anggotanya untuk belajar dengan cara menggali informasi yang dimiliki dan mengembangkan serta menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan organisasi dalam mewujudkan visi organisasinya. Sebagai sumber daya utama dalam upaya menciptakan organisasi belajar adalah manusia sebagai orang yang terlibat dalam organisasi, yang selalu memiliki kreatifitas, inovasi dan sensitifitas dalam mengupayakan suatu perubahan yang akan bermanfaat dalam kelompoknya untuk mencapai tujuan organisasi, tentunya sebagai upaya untuk mempermudah proses penggalian, pemeliharaan dan pemanfaatan pengetahuan yang ada dalam organisasi sehingga dapat dijadikan sumber belajar, maka diperlukan adanya teknologi. Melalui penggunaan teknologi, kegiatan belajar akan menjadi lebih efektif dan efisien. Sehingga dari kedua tokoh tersebut walaupun berbeda menentukan komponen yang sangat berpengaruh dalam mewujudkan organisasi belajar, ternyata nilai dan maknanya  memiliki   keterkaitan satu sama lain. Bahkan pendapat kedua tokoh ini saling memperkuat upaya menciptakan organisasi yang senantiasa belajar bersama dalam meningkatkan kinerja individu dan kelompok untuk mewujudkan tujuan organisasi. Sehingga organisasi selalu siap menghadapi segala tantangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungannya, bahkan mampu mengantisipasi kemungkinan perubahan yang akan terjadi. Kemampuan ini akan membuat organisasi semakin tangguh dan selalu berkembang, serta mampu bersaing dalam segala situasi.

 

 

 

Latar Belakang

Pembelajaran praktik banyak digunakan dalam pembelajaran orang dewasa  dan pembelajaran seumur hidup (lifelong learning). Pada dunia kesehatan hampir sebagian besar pendidikan dan pelatihan menggunakan pembelajaran praktik. Pembelajaran praktik juga  digunakan oleh pendidikan keprofesian yang menuntut seseorang untuk memiliki kompetensi tertentu dalam melaksakan pekerjaannya.

Pembelajaran praktik menekankan bahwa pembelajaran melalui pengalaman langsung memiliki kekuatan yang luar biasa, karena individu tersebut bisa merasakan langsung secara nyata tentang suatu konsep atau teori, atau fenomena dalam kehidupan nyata sekaligus bagaimana cara  penyelesaian masalahnya. Melalui proses pembelajaran ini peserta didik/latih juga dituntut untuk mampu menggunakan cara berfikir kritis dalam menganalisa dan menghadapi setiap persoalan, setiap ideu dan harapan serta kenyataan. Sehingga melalui pembelajaran praktek peserta dapat mengetahui fenomena yang ada di lapangan.

Agar mampu menghadapi kenyataan dan menyelesaikan fenomena yang ada sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan baik, maka kemampuan berfikir kritis dalam menganalisa akan menentukan kemampuan peserta dalam pengambilan keputusan untuk setiap tindakan. Kemampuan berfikir kritis dan menganalisa akan menjadi lebih tajam dengan proses pembelajaran refleksi, karena dengan proses refleksi peserta didik dituntut untuk selalu melihat kembali apa yang telah ditemukan dan dilakukan pada saat praktek, digali dan di investigasi mengapa hal itu terjadi  kemudian dinilai efektifitas dan keuntungan serta kerugiannya. Sehingga ditemukan cara yang terbaik untuk dilaksanakan dalam praktek selanjutnya. Kemampuan ini akan lebih menambah kepercayaan diri peserta  untuk berkreasi dan mengembangkan praktek yang terbaik. 

Proses pembelajaran refleksi  ini merupakan salah satu metode pembelajaran untuk meningkatkan kinerja, sehingga proses pembelajaran refleksi  tidak  hanya digunakan pada proses pendidikan dan pelatihan tetapi digunakan juga di lapangan baik di rumah sakit, puskesmas dan praktek mandiri sebagai proses pembelajaran yang berkesinambungan. Keputusan Menteri Kesehatan RI  nomor 836/2005 telah menetapkan Kebijakan Pengembangan Manajemen Kinerja Klinik Perawat dan Bidan,  pada keputusan tersebut proses pembelajaran refleksi merupakan metoda untuk meningkatkan kinerja Perawat dan Bidan, khususnya dalam menganalisa dan mengambil keputusan untuk melakukan pelayanan kepada pasiennya sesuai standar.

Begitu pula dalam upaya peningkatan kualitas asuhan kebidanan dalam menunjang terciptanya pelayanan PONEK di Rumah Sakit, pelayanan PONED di Puskesmas dan pelayanan kebidanan esensial di semua jenjang pelayanan dasar dan rujukan telah ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 938/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan, dalam proses bimbingan teknis yang dilakukan oleh para manajer kebidanan kepada para bidan pelaksana, menggunakan proses refleksi kasus dalam rangka meningkatkan kemampuan analisa dan penerapan standar pada pelayanan yang diberikan. Proses ini dirasakan sangat membantu meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan dan pemberian pelayanan kepada klien, sehingga pelayanan yang cepat dan tepat dapat diberikan.

Bila digambarkan proses refleksi pada proses pembelajaran praktek adalah sebagai berikut;

Diagram diatas menjelaskan bahwa proses pembelajaran terjadi dengan menerapkan langsung dalam kondisi nyata (concrete experience), sehingga individu mendapatkan pengalaman nyata. Dari pengalaman nyata yang didapatkan saat praktik yang merupakan respon seseorang secara total/ keseluruhan terhadap situasi atau kejadian meliputi apa yang dipikirkan, dirasakan dan dikerjakan  harus di refleksikan (reflective observation), karena  dengan proses refleksi  akan muncul konsep-konsep baru, yang terbentuk dari hasil kajian dan analisa pengalaman praktiknya yang berbentuk ideu, pikiran dan alternatif tindakan yang bersifat abstrak (abstract conceptualization). Kemudian individu tersebut akan termotivasi untuk mencoba mempraktikan pemikiran barunya dalam pembelajaran praktik, dan mencoba memberikan tindakan yang lebih efektif sesuai hasil ideu dan pikirannya, maka individu tersebut telah melakukan uji coba secara aktif apa yang dipikirkan dan ideunya dalam memberikan pelayanan (Active Experimentation). Siklus pembelajaran praktik ini terus berlangsung setiap individu melaksanakan praktik, sehingga pembelajaran praktik menjadi berkualitas dan sebagai individu pembelajar menjadi lebih dinamis, kreatif dan inovatif.

Pengertian Pembelajaran Refleksi (Reflective Learning)

Pembelajaran Refleksi merupakan proses mental yang menerapkan kegiatan  pembelajaran dengan mengaktifkan  peserta untuk menggunakan pemikiran yang kritis (critical thinking) untuk menguji informasi yang didapat, bertanya tentang kebenarannya dan menyimpulkan berdasarkan ideu-ideu yg dihasilkannya. Proses yang dilakukan secara berkesinambungan mengarahkan  individu untuk mampu membuat alternatif  pemecahan dan kesimpulan akhir, sehingga memiliki pemahaman yg lebih baik. Tanpa refleksi bembelajaran menjadi berakhir,sedangkan pengelolaan cara berfikir yg dalam memerlukan proses pembelajaran.                                                                  (Ewell, 1997)

Pembelajaran yang efektif  mensaratkan  waktu bagi peserta untuk selalu berfikir.  Peserta  perlu merefleksikan apa yang mereka pelajari  dengan mengevaluasi  proses berfikir yang digunakan dalam menentukan strategi kerja yang terbaik. Kemudian menerapkan pengetahuan yang didapat dari proses pembelajaran sebagai pendekatan yang akan digunakan pada pembelajaran selanjutnya. Proses berfikir yang terus menerus tentang apa yang ditemukan dan dikerjakan merupakan proses yang membangkitkan kreatifitas untuk selalu melakukan perubahan dan inovasi, sportifitas untuk menilai kelemahan dan kelebihan yang dimiliki.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa refleksi adalah suatu  cara pembelajaran, bukan suatu metode penilaian. Untuk lebih jelasnya proses refleksi dapat dilihat pada gambar berikut;

Dari gambar diatas menjelaskan bahwa pengalaman yang didapat  berupa perilaku, ideu dan perasaan saat mengerjakan sesuatu/ memberikan pelayanan  perlu direfleksikan dengan cara melihat kembali, mengidentifikasi dan menganalisa, sehingga akan terbentuk perasaan positif terhadap pengalaman yang didapatnya, dan apabila terdapat pengalaman yang tidak menyenangkan diidentifikasi penyebabnya kemudian dicari alternatif pemecahannya, sehingga perasaan dan pikiran yang tidak enak atau konflik etik yang dirasakan dapat dihilangkan dengan alternatif pemecahan yang efektif. Pada proses refleksi ini individu mengevaluasi semua pengalamannya yang telah dilakukan, proses ini akan menghasilkan perspektif baru terhadap pekerjaannya, sekaligus akan merubah perilaku menjadi positif karena akan berusahan menghindari tindakan yang tidak efektif dan memilih tindakan yang sudah jelas ada bukti evidence nya menguntungkan klien. Dengan proses yang dilakukannya individu akan memiliki kesiapan untuk melakukan kembali pelayanan sebagai aplikasi dari pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimilikinya. Kesiapan dan kepercayaan yang dimiliki untuk memberikan pelayanan tersebut akan menumbuhkan komitmen yang positif untuk memberikan pelayanan/ bekerja dengan kualitas yang lebih baik. Maka kondisi ini akan membuat kinerja individu lebih baik.  

Mengapa Refleksi penting?

Proses refleksi sangat penting dilakukan oleh setiap individu yang menggunakan pengalamannya sebagai proses pembelajaran, karena dari pengalaman langsung akan didapatkan pengetahuan yang nyata dengan permasalahan yang kompleks sesuai dengan  kondisi yang aktual. Hal-hal yang menyebabkan proses refleksi menjadi sesuatu yang sangat bermakna adalah;

·         Apabila seseorang berfikir tentang apa yang dipelajari dan menuliskannya akan menolong untuk mengklarifikasi apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.

·         Refleksi juga menolong individu  untuk melihat dengan fokus tentang  perkembangan yang terjadi sebagai pembelajar yang efektif dan mandiri, dan tentang strategi yang digunakan dalam bekerjanya.

·         Catatan yang dibuat akan menjadi catatan perkembangan dari individu  selama proses pembelajaran terjadi.

Pada saat melakukan refleksi maka individu akan berfikir dan bertanya tentang apa yang sudah dilakukannya secara terfokus, diantaranya :

Apa yang telah terjadi ?
Bagaimana pembelajaran  tentang pengalaman itu?
Bagaimana menggunakan pengalaman prakteknya?  
Apa kekuatan dan kelemahan dari pengalaman praktek?
Apa yang menjadi prioritas dalam pembelajaran prakteknya?
Bagaimana dapat meningkatkan & membangun proses   yang dipelajarinya ?
Bagaimanana mencapai tujuan pembelajaran?

Dengan pembelajaran refleksi maka individu  diberikan kesempatan untuk menggali dan menggunakan pengetahuan, keterampilanl dan perasaannya  sesegera mungkin dalam situasi yang sesuai. Proses refleksi juga lebih menekankan pembelajaran dengan mengalami langsung phenomena yg dipelajari dari pada hanya berfikir tentang apa yang dialami. Proses pembelajaran ini sering digunakan dalam pembelajaran orang dewasa, pendidikan informal dan pembelajaran seumur hidup (lifelong education).

 

Manfaat Proses Refleksi

Banyak manfaat yang bisa didapat dari proses pembelajaran dengan menggunakan proses refleksi ini diantaranya;

  • Meningkatkan praktek dimasa yang akan  datang
  • Jujur terhadap diri dan penampilan yang dimiliki
  • Selalu mencari pertolongan/bantuan kepada teman (Tim) jika diperlukan
  • Meyakini  bahwa praktek yang dilakukan berdasarkan penelitian yang up to date
  • Dengan menggunakan critical thinking meningkatkan diri  untuk menghadapi tantangan.
  • Meningkatkan kepercayaan
  • Selalu berusaha menggali dan mencari pembenaran yg rasional dari tindakan yg dilakukan

·         Praktek Refleksi akan membuat individu  mempelajari nilai & perasaan yg dimilikinya sebagai orang yang bermakna sebagai  pemberi  pelayanan.

Proses Refleksi dengan Critical Incident

Proses refleksi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satu cara yang sering digunakan dalam praktik klinik kesehatan adalah menggunakan analisa kasus nyata (critical incident). Dengan critical incident ini individu dapat melakukan pembelajaran yang nyata dari kasus yang ada dan telah diberikan pelayanan langsung. Sehingga dapat dilakukan pembelajaran dalam setiap tindakan yang telah dilakukan, diantaranya;

·         Apakah anamnesa/pemeriksaan  yang dilakukan sudah lengkap dan tepat ?

·         Apakah diagnosa yang dirumuskan sudah tepat sesuai kondisi klien?

·         Apakah tindakan yang dilakukan sudah sesuai ? efektif?

·         Apakah penanganan yang dilakukan menyelesaikan masalah yang ada? Bagaimana kondisi klien setelah diberikan tindakan?

·         Bagaimana respon klien/ kepuasan klien?

Proses refleksi dengan menganalisa kasus ini membandingkan dan menginvestigasi dengan dasar standar pelayanan,  kajian teori dan bukti penelitian /evidence based practice.

Kesuksesan proses refleksi dengan menggunakan analisa kasus nyata dengan kejadian yang kritis (critical incident), akan mempengaruhi individu untuk mampu :

·         Mengembangkan opini-opini nya

·         Melihat kemungkinan kemungkinan  yang terjadi

·         Melatih ketajaman berfikir

·         Menjadi kreatif  

Keuntungan/ Dampak lain

·           Meningkatkan therapeutic kepada individu

·           Meningkatkan Komunikasi yang baik & empati diantara koleha

·           Critical thinking merupakan hal penting dalam praktek profesional 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.